Sabtu, Juni 22, 2024
spot_img

Bos Klub Jadi Anggota Exco, Rawan Konflik Kepentingan di PSSI

BolaMilenia.com – PSSI disebut rawan konflik kepentingan karena adanya bos-bos klub yang menjadi anggota Komite Eksekutif (Exco). Anggapan itu disampaikan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) dalam laporannya kepada Presiden Joko Widodo.

Tak dimungkiri, dalam kepengurusan, terutama jajaran Exco PSSI, ada sejumlah sosok yang juga punya peranan penting di klubnya. Kondisi ini sebetulnya sudah terjadi sejak lama. Makanya, TGIPF berharap semuanya bisa diubah secara total.

“Adanya regulasi yang memiliki potensi conflict of interest di dalam struktur kepengurusan khususnya unsur pimpinan (Executive Committee) yang diperbolehkan berasal dari pengurus/pemilik klub,” tulis laporan TGIPF.

TGIPF pun meminta PSSI ntuk mengubah statutanya demi perbaikan kualitas sepak bola Indonesia. Perbaikan sepak bola dianggap tak boleh terpaku hanya dari statuta saja.

Bos Klub Jadi Anggota Exco, Rawan Konflik Kepentingan di PSSI
PSSI

“Dalam rangka pelaksanaan prinsip tata kelola organisasi yang baik (good organization governance) perlu segera bagi PSSI untuk merevisi statuta dan peraturannya. Mereka juga didesak untuk menjalankan prinsip keterbukaan informasi publik terhadap berbagai sumber dan penggunaan finansial, serta berbagai lembaga kegiatan usaha dibawah PSSI,” jelas TGIPF.

Menurut tim yang dipimpin Mahfud MD itu, perbaikan sepak bola Indonesia tak boleh hanya terpaku kepada statuta saja. Statuta itu pun dianggap bertentangan pada prinsip kelola organisasi.

“Dalam rangka membangun persepakbolaan nasional yang berperadaban dan bermakna bagi kepentingan publik, penyelamatan PSSI tidak cukup hanya berpedoman pada Statuta yang isinya banyak bertentangan dengan prinsip-prinsip tata kelola organisasi yang baik,” tulis TGIPF.

“Namun perlu pula didasarkan pada prinsip menyelamatkan kepentingan publik/keselamatan rakyat (salus populi suprema lex esto). Dasar dari ketaatan pada aturan resmi dan dalil keselamatan publik ini adalah aturan moral dan nilai-nilai etik yang sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita berbudaya,” tutup mereka.

Related Articles

Stay Connected

225,636FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru